Hysterosalpingografi

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Fertilitas (kesuburan) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya. Jadi, fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup (Sudraji Sumapraja, 1997). Berdasarkan definisi diatas maka dapatlah dimengerti bahwa untuk menghasilkan keturunan, penilaian terhadap kesuburan tidak hanya dilakukan sepihak, namun kedua belah pihak. Baik itu dari istri maupun suami.


Terjadinya suatu konsepsi membutuhkan berfungsinya berbagai sistem fisiologik secara memadai pada kedua pasangan. Infertilitas (ketidaksuburan) dapat terjadi akibat suatu defisiensi mayor (misalnya penyumbatan tuba) atau berbagai defisiensi minor (David E. Meldrum, 1995). Sebelum dan sesudahnya tidak seorangpun tahu, apakah pasangan itu fertil atau tidak. Riwayat fertilitas sebelumnya sama sekali tidak menjamin fertilitas di kemudian hari, baik pada pasangan itu sendiri, maupun berlainan pasangan. Disebut infertilitas primer kalau istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Disebut infertilitas sekunder kalau istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan (Sudraji Sumapraja, 1997).

Mengingat sangat kompleksnya proses reproduksi, sungguh mengherankan bahwa 80 % pasangan mencapai konsepsi dalam waktu satu tahun. Lebih tepatnya, 25 % mengalami konsepsi dalam bulan pertama, 60 % dalam 6 bulan, 75 % pada 9 bulan dan 90 % pada 18 bulan. Laju konsepsi bulanan yang terus menurun yang diperlihatkan oleh angka-angka ini kemungkinan besar mencerminkan rentang spektrum fertilitas dari pasangan yang sangat subur hingga pasangan dengan infertilitas relatif (David E. Meldrum, 1995).

Infertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain (Derek Llewellyn – Jones, 1995) :

1. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat, kesulitan inseminasi), 30 – 40 %.

2. Faktor ovulasi, 5 – 25 %.

3. Faktor tuba atau uterus, 15 – 25 %.

4. Faktor serviks / imunologik, 5 – 10 %.

5. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi, 10 – 25 %.

Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat.

Diantara pelbagai faktor penyebab tersebut ada yang bisa dicegah dan diobati. Karena itu, pemeriksaan dini kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita perlu dalam upaya mendapatkan keturunan (Kompas-Online.Com, 2002).

Dari latar belakang diatas, maka dapat diketahui bahwa fertilitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Investigasi dan evaluasi sebaiknya dilakukan untuk mengetahui etiologi dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Hysterosalpingografi merupakan salah satunya. Dengan pemeriksaan radiologis yang menggunakan bahan kontras ini dapat ditegakkan diagnosa infertilitas karena adanya kelainan pada tuba fallopii atau uterus.

I.2 Perumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapatlah ditarik suatu pokok permasalahan yaitu bagaimana cara menegakkan diagnosa infertilitas dengan pemeriksaan Hysterosalpingografi.

I.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan Hysterosalpingografi pada infertilitas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu pasangan mungkin akan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan apabila selama setahun berhubungan badan secara normal tanpa kontrasepsi tetapi tidak terjadi kehamilan. Infertilitas (ketidaksuburan) bisa berasal dari suami, istri atau kedua-duanya (Infokes.Com, 2002). Fertilitas sendiri mengandung arti kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilkannya. Jadi, fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. Dengan demikian tidak ada istilah “fertilitas pria”, “fertilitas wanita”, “infertilitas pria”, ataupun “infertilitas wanita” mengingat fertilitas dan infertilitas itu merupakan kemampuan sepasang suami istri sebagai satu kesatuan biologik (Sudraji Sumapraja, 1997).

Konsepsi membutuhkan penjajaran gamet pria dan wanita pada stadium pematangannya yang optimal, diikuti dengan pemindahan konseptus ke rongga rahim pada saat endometrium dapat memberi sokongan terhadap kelanjutan perkembangannya dan implantasi. Agar peristiwa ini terjadi, sistem reproduksi pria dan wanita secara anatomik dan secara fisiologi harus utuh, dan koitus harus cukup sering dilakukan agar air mani dapat diendapkan dalam selang waktu yang dekat dengan pelepasan oosit dari folikel. Sekalipun pembuahan terjadi, lebih dari 40 % embrio yang dihasilkannya bersifat abnormal dan tidak berkembang atau tidak dapat hidup sesaat setelah implantasi. Karena itu tidak mengherankan bila 10 sampai 15 % pasangan mengalami infertilitas (David E. Meldrum, 1995).

Faktor – faktor yang mungkin mempengaruhi infertilitas pasangan sangat bergantung pada keadaan lokal, populasi yang di investigasi, dan prosedur rujukan. Analisis yang dilaporkan oleh beberapa klinik yang meliputi jumlah pasien yang banyak dalam dua dekade lalu adalah sebagai berikut (Derek Llwellyn – Jones, 1995) :

1. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat, kesulitan inseminasi), 30 – 40 %.

2. Faktor ovulasi, 5 – 25 %.

3. Faktor tuba atau uterus, 15 – 25 %.

4. Faktor serviks / imunologik, 5 – 10 %.

5. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi, 10 – 25 %.

Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat.

Pendapat lain juga menjelaskan berbagai macam faktor yang mempengaruhi infertilitas (Infokes.Com, 2002) :

A. Infertilitas wanita

e Banyak wanita yang masa suburnya tidak teratur. Ketidakteraturan ini merupakan faktor infertilitas yang sering terjadi pada wanita.

e Pengeluaran telur yang tidak teratur dipengaruhi hormon, terdapat perlengketan jaringan dalam rongga di sekitar indung telur atau di dalam tuba fallopi – atau akibat adanya infeksi.

e Selain itu ada juga Endometriosis, yaitu jaringan rahim endometrium keluar menyeberang saluran indung telur dan bebas berkeliaran di luar rahim; di rongga perut, dipinggul dsb. Endometriosis gejala klinisnya disertai rasa sakit dan akan timbul bila daya tahan tubuh wanita menurun.

e Kelainan fungsi reproduksi wanita seperti ada tumor di kandungan, ketidakseimbangan hormon wanita

e Infeksi yang dikenal dengan istilah TORCH, yaitu Toksoplasma (parasit yang biasa menumpang hidup pada hewan piaraan seperti kucing, anjing, burung), Rubella, Citomegalo-virus, Herpes dan jamur, yang kesemuanya bisa menggagalkan kehamilan.

B. Infertilitas pria

e Pada pria terjadi jumlah sperma yang sedikit dan sperma tidak dapat “berlari” menembus sel telur.

e Adanya sumbatan saluran sperma dan infeksi secara tidak langsung dapat menyebabkan gangguan kesuburan pria.

e Adanya kerusakan organ tubuh bagian dalam akibat kecelakaan atau berolahraga.

e Impotensi dan komplikasi atau efek samping suatu penyakit seperti diabetes, tumor testis, atau kanker.

e Kelainan genetik dan kerusakan pada testis yang disebabkan virus atau bahan kimia di lingkungan sekitar.

Untuk menyingkirkan berbagai etiologi yang mempengaruhi infertilitas, maka perlu dilakukan berbagai investigasi pada pasangan yang mengeluh sulit untuk memperoleh keturunan. Setiap pasangan infertil harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Itu berarti kalau istri saja yang diperiksa sedangkan suami tidak diperiksa maka pasangan itu tidak diperiksa (Sudraji Sumapraja, 1997).

Adapun syarat – syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut (Sudraji Sumapraja, 1997) :

1. Istri yang berumur antara 20 – 30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila :

a. pernah mengalami keguguran berulang

b. diketahui mengidap kelainan endokrin

c. pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut; dan

d. pernah mengalami bedah ginekologik

2. Istri yang berumur antara 31 – 35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.

3. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36 – 40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.

4. Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri atau anaknya.

Berikut adalah pemeriksaan yang dilakukan pada pasangan infertil (Infokes.Com, 2002) :

f Pemeriksaan infertilitas seharusnya mengikutsertakan kedua pasangan dan selalu dimulai dengan riwayat medis secara lengkap dan riwayat reproduksi (misal paparan terhadap penyakit kelamin, masalah menstruasi, gangguan ereksi). Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk meneliti ketidakseimbangan hormon tertentu.

f Tahap selanjutnya biasanya analisa cairan semen karena bila didalam semen tidak terdapat sperma, maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan pada wanita. Cairan yang akan diperiksa sebaiknya dikumpulkan kedalam tabung plastik setelah 3 hari tidak berhubungan badan dan diperiksa dalam beberapa jam setelah dikumpulkan. Cairan semen yang normal seharusnya terkumpul dalam jumlah yang cukup (3 ml), mengandung sperma yang cukup (lebih dari 20 juta per ml) dan sebagian besar (50 %) harus dalam keadaan aktif dan selalu bergerak.

f Apabila hasil pemeriksaan semen normal, kemudian dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah wanita tersebut menghasilkan sel telur (ovulasi) dan memeriksa apakah tuba fallopii tersumbat.

f Pemeriksaan ovulasi meliputi :

ó Memeriksa suhu badan melalui mulut setiap pagi waktu bangun tidur dan mencatatnya dalam suatu grafik khusus (tanda ovulasi apabila terjadi sedikit kenaikan suhu badan pada pertengahan siklus haid).

ó Memeriksa perubahan cairan leher rahim.

ó Memeriksa kadar hormon tertentu dalam darah.

ó Memeriksa indung telur dengan ultrasonografi pada masa ovulasi.

ó Sumbatan pada tuba fallopii bisa diketahui dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus kedalam rahim (uterus). Dengan alat sinar X atau dengan peralatan laparoskop (yang dimasukkan melaui dinding perut untuk memeriksa isi rongga perut), maka bisa dilihat aliran zat pewarna tersebut melalui rahim dan keluar dari tuba.

f Untuk melihat apakah cairan leher rahim dari wanita tersebut bersifat melawan sperma, maka perlu pemeriksaan sesudah hubungan badan (post-coital) pada saat mendekati masa ovulasi. Cairan leher rahim diambil dalam 6 jam setelah berhubungan badan dan diperiksa dibawah mikroskop. Pada keadaan normal, bisa terlihat sejumlah sperma yang bergerak aktif. Pengobatan pada infertilitas berupa pengenalan dan perbaikan dari penyebab dasar infertilitas. Mungkin diperlukan obat untuk memacu ovulasi. Tindakan bedah bisa dilakukan untuk menghilangkan penyumbatan tuba. Infeksi pelvis, endometriosis dan ketidakseimbangan hormon akan memerlukan pengobatan yang khusus. Cara pembuahan in-vitro (bayi tabung) dan inseminasi buatan mungkin merupakan pilihan yang terbaik bagi pasangan.

BAB III

PEMBAHASAN

III.1 Deskripsi

Pemeriksaan Hysterosalpingografi (HSG) adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui cervik uteri. Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur. Disamping itu, HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas atau keguguran yang berulang. Kadang pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosa penyebab nyeri pelvis yang berasal dari dalam uterus atau memberikan informasi keberhasilan operasi tuba beberapa minggu atau bulan pasca operasi (Abington Reproductive Medicine, 2002).

Biasanya, HSG dilakukan 2 – 5 hari setelah menstruasi berakhir dan sebelum ovulasi untuk memastikan bahwa pasien tidak dalam keadaan hamil saat prosedur dilakukan. Suatu penelitian terbatas menyatakan bahwa fertilitas meningkat setelah HSG dilakukan dengan kontras minyak. Hipotesis tersebut menyatakan bahwa setelah pemberian, adhesi berkurang, fungsi cavum uteri meningkat, mucus menghilang dan kemampuan otot polos meningkat. Hal ini menyatakan bahwa HSG dapat mempunyai aplikasi terapi. Tapi, kebanyakan HSG dilakukan hanya untuk tujuan diagnostik karena efek terapeutiknya yang masih kontroversial (EcureMe.Com, 2002).

III.2 Bahan Kontras

Pada tahun-tahun yang terakhir ini dipakai juga bahan kontras lipiodol ultrafluid untuk pemeriksaan HSG. Bahan kontras ini juga dipakai untuk limfografi, sialografi, fistulografi dan untuk saluran-saluran yang halus misalnya saluran air mata (Gani Ilyas & Sudarmo Saleh Purwohudoyo, 2000).

Kekurangan lipiodol ialah bahwa resorpsi kembali berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk ke dalam rongga peritoneum. Sekarang oleh ahli radiologi di Indonesia lebih banyak di pakai bahan kontras cair dalam air. Penggunaan urografin 60 % (meglumin diatrizoate 60 % atau sodium diatrizoate 10 %). Bahan kontras ini sifatnya encer, memberikan opasitas yang memuaskan dan mudah masuk kedalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras kedalam rongga peritoneum dengan segera (Gani Ilyas & Sudarmo Saleh Purwohudoyo, 2000).

III.3 Indikasi HSG

Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam bidang ginekologi, yaitu :

1. Sterilitas primer maupun sekunder, untuk melihat potensi tuba.

2. Untuk menentukan apakah IUD (Intra Uterine Device) masih ada dalam cavum uteri.

3. Pada perdarahan pervaginam sedikit, misalnya yang disebabkan mioma uteri, polip endometrium, adenomatorus.

4. Abortus habitualis dalam trimester II, dengan HSG dapat diketahui lebar dan konfigurasi uteri internum.

5. Kelainan bawaan uterus atau adhesi bila kanalis servisis dan cavum uteri yang dapat menyebabkan abortus.

6. Tumor maligna cavum uteri.

III.4 Kontra Indikasi HSG

1. Proses inflamasi yang akut pada abdomen.

2. Hamil muda, karena bahaya terjadinya abortus.

3. Perdarahan pervaginam yang berat.

4. Setelah curettage atau dilatasi kanalis servisis.

5. Penyakit ginjal dan jantung yang lanjut

III.5 Komplikasi HSG

Umumnya komplikasi HSG hanya ringan saja. Keluhan utama ialah rasa nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan. Rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam beberapa jam. Kadang-kadang timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien sensitiv terhadap kontras.

III.6 Prosedur Pelaksanaan

Sebelum pemeriksaan dilaksanaan, tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat :

ª Alergi terhadap bahan X-ray, obat – obatan atau makanan.

ª Asma

ª Sedang dalam terapi

ª Kelainan perdarahan

Jika pasien mempunyai infeksi pelvis, sebaiknya diberikan antibiotik sebelum tes dilakukan (EcureMe.Com, 2002).

Prosedur :

ª Pasien diminta membuka pakaian dan berbaring pada meja pemeriksaan

ª Kemudian pemeriksa, dapat ahli radiology atau ginekolog akan memasukkan speculum kedalam vagina, menempatkan sebuah tabung kedalam servik, lalu kontras di injeksikan kedalam uterus

ª Kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii dan akhirnya akan tumpah memenuhi cavum pelvis disekeliling uterus dan tuba

ª Beberapa foto akan diambil selama pemeriksaan berlangsung

ª Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan fluoroskopi.

III.7 Efek Samping

Hal-hal yang mungkin timbul setelah pemeriksaan Hysterosalpingografi antara lain (Abington Reproductive Medicine.Com, 2002) :

  1. Bercak darah pervaginal selama beberapa hari
  2. Nyeri atau rasa kram yang moderat mungkin dapat timbul beberapa jam setelah beberapa jam post pemeriksaan
  3. Demam atau nyeri yang persisten dapat merupakan indikasi berkembangnya infeksi. Gejala-gejala ini sebaiknya dilaporkan kepada dokter jika menetap lebih dari beberapa jam.
  4. Pemakain semprot, sanggama, atau tampon vagina sebaiknya ditunda hingga 48 jam setelah prosedur.

BAB IV

KESIMPULAN

ô Fertilitas (kesuburan ) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya.

ô Hal-hal yang dapat mempengaruhi infertilitas antara lain :

> Faktor laki-laki (produksi sperm cacat, kesulitan inseminasi), 30 – 40 %

> Faktor ovulasi, 5 – 25 %

> Faktor tuba atau uterus, 15 – 25 %

> Faktor serviks / imunlogik, 5 – 10 %

> Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi, 10 – 25 %

ô Untuk mengetahui etiologi infertilitas pada satu pasangan, sebaiknya dilakukan investigasi dan evaluasi agar diagnosa dapat ditegakkan.

ô Berbagai macam tes dan pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui etiologi dari infertilitas, salah satunya adalah dengan Hysterosalpingofrafi (HSG).

ô Hysterosalpingografi adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui servik uteri. Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii -yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur. Disamping itu, HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran berulang.

DAFTAR PUSTAKA

Abington Reproductive Medicine.Com, 2002, Hysterosalpingography

David E. Meldrum, 1995, Infertilitas, Essensial Obstetri dan ginekologi, Ed. 2, Hal 598 – 610, Hipokrates

Derek Llwellyn – Jones, 1995, Infertilitas, Dasar – dasar obstetrik dan ginekologi, Ed. 6, Hal 234 – 238, Hipokrates

EcureMe.Com, 2003, Hysterosalpingogram

Gani Ilyas & Sudarmo Saleh Purwohudoyo, 2000, Sistem reproduksi wanita, Radiologi Diagnostik FKUI, Gaya baru, Jakarta

Infokes.Com, 2000, Kemandulan, Infokes.Com Edisi Senin, 16 Oktober 2000

Kompas-Online.Com, 2002, Pelbagai penyebab kemandulan, Kompas-Online Edisi Jum’at, 28 Juni 2002

Suradji Sumapraja, 1997, Infertilitas, Ilmu Kandungan, Ed. 2, Hal 496 – 533, Hal 309 – 321, Yayasan Bina Pustaka Sarwono prawirohardjo, Jakarta

JACK

About these ads

4 Tanggapan

  1. Informasinya sangat membantu, sepertinya saya mesti banyak share, dengan anda.

    Salam Sukses

  2. @parakantiga
    maksih atas kunjungan nya…….mudah2an bermanfaat…

  3. Hmm, bagus sekali artikel di blog nya, saya sedang menulis tentang pengobatan mioma, silahkan berkunjung ke blog saya ya..

    sonya

    http://transferfactoruntukwanita.wordpress.com/2009/03/01/pengobatan-mioma-dengan-transfer-factor/

  4. yaehhhhh its veryy good, apalagi janji atau moto IDM RSU DR. Slamet…

    (calon radiografer)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: