PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI

Pembunuhan anak merupakan fenomena yang beragam dengan bermacam kasus dan karakteristik. Pemberitaan mengenai hal tersebut kemungkinan membangkitkan reaksi emosi yang kuat dalam masyarakat. Beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya pembunuhan anak selama ini, diantaranya anak dijadikan korban (human sacrifice), mengontrol jumlah penduduk, menghindari kemelaratan, membatasi jumlah perempuan, menghindari kelahiran cacat, takhayul, dan ilegitimasi.
Pembunuhan pada anak menjadi pokok penyelidikan dan publikasi sejak awal pencatatan sejarah. Dimana kasus pertama atas pengabaian dan kekerasan fatal pada anak di laporkan di Modern Times yang disajikan oleh Ambrose Tardieau, seorang ahli forensik Francis dari abad ke-19, yang kemudian diikuti oleh forensik medis United Kingdom dan United States.
John Caffey dan Henry Kempe merupakan klinisi yang diakui sebagai perintis penyelidikan terhadap kekerasan anak di United States. Caffey (1946) seorang radiologis Pitsburgh mempublikasikan gambaran pola trauma kepala dan fraktur yang dikenal sebagai “parent-infant stress syndrome” dan Kempe (1967) menggambarkan pola “battered child syndrome” yang dilaporkan dalam Journal of the American Medical Association. DiMaio seorang forensik patologi, menggambarkan karakteristik pembunuhan bayi, infant dan anak.

Resnick (1970) menjelaskan semua pembunuhan anak dengan istilah infanticide. Pembunuhan anak yang sebagian besar dilakukan oleh orang tua dibedakan menjadi dua tipe, yaitu neonaticide dan filicide. Neonaticide didefenisikan sebagai pembunuhan anak pada hari dia dilahirkan (<24 jam) dan filicide didefenisikan sebagai pembunuhan terhadap anak anak laki-laki maupun perempuan berumur lebih dari 24 jam (Resnick, 1970, p. 58).
Sebagian besar pembunuhan anak terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, dimana insiden terbanyak adalah pada tahun pertama. Hal terjadi ketika anak berusia sekitar enam minggu, dimana sang anak mulai menangis lebih sering dan pada saat berumur dua tahun ketika tiba waktunya toilet training. Insiden kembali memuncak pada umur remaja ketika anak menjadi lebih bebas di luar dan keterlibatan dengan perilaku beresiko seperti alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, penggunanaan senjata, dan kekerasan antar geng.
Menurut hubungan dengan korban, secara umum pelaku pembunuhan anak dibagi menjadi intrafamilial dan extrafamilial. Intrafamilial diartikan sebagai orang tua biologis, orang tua angkat ataupun orang tua tiri. Jason (1983) mengusulkan dua pola pada pembunuhan anak, intrafamilial biasanya didominasi korban yang berumur 0-3 tahun dan kemungkinan dijelaskan sebagai fatal child abuse. Meskipun pelaku pembunuhan extrafamilial jarang terjadi dan biasnya hanya dilakukan oleh pelaku laki-laki, korban pembunuhan didominasi anak berumur lebih dari 12 tahun dan dijelaskan sebagai fatal parental-societal neglect. Pembunuhan yang terjadi pada umur diantara 3 dan 12 tahun biasanya dilakukan oleh salah satu dari keduanya (mixture).

selengkapnya download (rar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: