Jas Putih…..riwayat mu kini….

Jas putih = dokter
Benarkah? Coba baca tulisan ini sampai habis..

Sejak zaman dahulu kala, profesi pengobat/penyembuh alias healer dalam sebuah kebudayaan menempati posisi tersendiri dalam masyarakat. Seringkali posisi tersebut makin tinggi akibat merangkapnya profesi pengobat dengan petinggi agama. Posisi tersebut tentu saja membutuhkan sebuah ciri identitas yang membedakan dirinya dengan anggota masyarakat yang lain.

Bagaimana caranya? Pakai kostum yang berbeda.
Ini beberapa contoh yang saya dapat dari berbagai kebudayaan suku asli Amerika.

Riwayat Jas Putih

Dalam dunia kedokteran modern (baca:Barat), dokter pun memiliki posisi sosial yang tinggi dalam masyarakat. Namun mereka tidak mengenakan kostum khusus untuk membedakan dirinya. Kostum yang mereka kenakan adalah kostum yang sama dikenakan oleh para aristokrat zaman itu. Ini boleh jadi sebuah upaya untuk mengidentifikasikan diri bahwa dokter pun termasuk kalangan aristokrat, ahli waris Renaissance, berkebudayaan tinggi.

Kostum ini mereka kenakan selama bertugas sebagai dokter, dalam kehidupan sehari-hari bahkan saat melakukan pembedahan! Mereka hanya mengenakan celemek yang sama seperti yang dikenakan oleh tukang jagal di pemotongan hewan ternak…

Pada penghujung abad 19 hingga awal abad 20, terjadi ledakan penemuan-penemuan besar dalam dunia kedokteran yang berasal dari laboratorium-laboratorium penelitian ilmiah. Para ilmuwan, peneliti, dokter-dokter di laboratorium menjadi “selebritis”. Para dokter pun akhirnya meniru sebuah ciri khas para kuncen lab, yaitu jas putih yang mereka kenakan.

Selain itu banyak pula rumah sakit yang satu kompleks dengan para dokter peneliti itu. Untuk kepraktisan, jas putih mereka pun kenakan selama hilir mudik dari laboratorium dan bangsal-bangsal rumah sakit. Para pasien tidak keberatan, maklum masih kultur paternalistik. Secara perlahan, jas putih menjadi sebuah ciri khas dokter.

Jas Putih, sekarang

Jas putih menjadi sebuah ciri dokter, bahkan seperti kostum para pengobat, meningkatkan posisi pemakainya beberapa derajat dalam masyarakat. Kenakan jas putih di RS dan berjalanlah di lorongnya. Kalau perlu, kalungkan stetoskop Littman, peganglah map yang berisi rekam medis pasien, pandangan orang-orang terhadap anda akan berubah. Seperti Nabi Musa membelah Laut Merah dengan tongkatnya, orang-orang akan menyingkir agar jalan terbuka lebar untuk anda. Gantungkan jas putih di jok mobil anda, salah pun polisi agak segan menilang anda.

Jas putih dari sebuah alat perlindungan kerja, bertransformasi menjadi sebuah simbol status, bahkan fashion. Jas putih dimodifikasi menjadi jas kerja, dari setinggi lutut menjadi setinggi pinggul, dari longgar menjadi ngepas, dari berbahan katun kasar menjadi tetoron, membuat pemakainya selain terlihat pintar, berwibawa, juga modis dan bergaya.

Namun dunia telah berubah. Pasien makin cerdas dan penuntut. Lama-lama ketahuan bahwa banyak pasien yang tekanan darah sehari-harinya normal jadi naik saat bertemu dengan dokter, dikira hipertensi lalu dikasih obat, padahal tidak kenapa-kenapa. Anak-anak menangis bertemu dokter, takut disuntik? Bukan, tapi takut jas putih yang kita kenakan. Para pasien penyakit jiwa jadi tidak kooperatif saat bertemu dokter yang memakai jas putih.

Hal ini mengubah para dokter anak dan ahli jiwa di negara maju. Jas putih mereka tanggalkan, dengan name tag sederhana di sakunya, berkostum biasa tapi rapi mereka menghadapi pasien.

Lalu apakah jas putih menjadi tidak penting lagi?

Tidak juga. Jas putih masih memiliki fungsi sebagai ….alat perlindungan kerja. Seperti masker, sarung tangan, jas putih melindungi kita dari noda, cairan, darah mengenai kita. Warnanya yang putih, mudah kotor, sehingga mengingatkan kita untuk mengganti jas agar selalu bersih, menghindari penularan kuman dari satu pasien ke pasien lainnya.

“Kembalikan fungsi jas putih menjadi alat perlindungan kerja, bukan alat perlindungan ego. Alat perlindungan kerja dipakai hanya saat bekerja di lingkungan kerja. Alat perlindungan ego dipakai selama ego kita menuntut lebih untuk diperlakukan berbeda oleh masyarakat”.

Bagaimanapun juga jas putih masih dipandang sebagai simbol identitas dokter. Beberapa pasien merasa dokter yang memakai jas putih lebih berwibawa, dan pasien lebih mau mendengarkan pada dokter yang mengenakan jas putih, dan ini meningkatkan kepatuhan pasien pada pengobatan.

Jadi kesimpulannya, memakai jas putih atau tidak, dikembalikan kepada penilaian dan kepentingan utama kita sebagai pengobat: PASIEN. Bila ia menguntungkan pasien, kenakanlah. Bila ia merugikan, lepas saja. Toh identitas dokter kita akan tetap terlihat dari pikiran kita, tergambar dari pilihan tutur kata kita, dan gerak gerik badan kita. Bila kita cerdas, namun tetap ramah dan santun, tidak akan ada yang bisa memungkiri, bahwa kita adalah dokter yang baik.

jack

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: