Stroke

Stroke adalah serangan otak yang timbul secara mendadak dimana terjadi gangguan fungsi otak sebagian atau menyeluruh sebagai akibat dari gangguan aliran darah oleh karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah tertentu di otak sehingga menyebabkan sel-sel otak kekurangan darah, oksigen atau zat – zat makanan dan akhirnya dapat terjadi kematian sel-sel tersebut dalam waktu relatif singkat . Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.

Menurut WHO (1988): “Stroke is a rapidly developing clinical sign of focal or global disturbance of cerebral function with symptoms lasting 24 hours or longer, or leading to death with no apparent cause other than vascular signs.” (Stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak focal maupun global secara mendadak dan akut, yang berlangsung lebih dari 24 jam, akibat gangguan aliran darah otak). . Klasifikasi Stroke

a) Stroke non perdarahan (infark / iskemik)

Stroke iskemik atau infark otak yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Sekitar 85% kejadian stroke, disebabkan oleh stroke iskemik. Sebagian besar stroke iskemik terjadi di hemisfer otak, meskipun sebagian terjadi di serebelum atau batang otak. Beberapa stroke iskemik di hemisfer bersifat asimtomatik atau hanya menimbulkan kecanggungan , kelemahan ringan, atau masalah daya ingat. Namun stroke ringan berganda dan berulang dapat menimbulkan cacat berat, penurunan kognitif dan demensia.

Berdasarkan perjalanan klinisnya, stroke iskemik dikelompokkan menjadi:

• Transient Ischemic Attack (TIA)

Serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam

• Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RND)

Gejala neurologis akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21 hari.

• Progressing Stroke atau Stroke in Evolution

Kelumpuhan atau defisit neurologik berlangsung secara bertahap mulai dari yang ringan sampai menjadi berat.

• Completed Stroke atau stroke komplit

Kelainan neurologis sudah menetap, dan tidak berkembang lagi.

Berdasarkan penyebabnya menurut klasifikasi The National Institute of Neurogical Disorders Stroke part III trial (NINDS III), stroke iskemik dikelompokkan menjadi:

• Aterotrombolik

• Kardioemboli

• Lakunar

• Penyebab lain yang menyebabkan hipotensi

b) Stroke perdarahan (hemoragik)

Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya cabang pembuluh darah tertentu di otak akibat dari kerapuhan dindingnya yang sudah berlangsung lama (proses aterosklerosis / penuaan pembuluh darah) yang dipercepat oleh berbagai faktor seperti halnya pada stroke sumbatan, biasanya pada usia tua atau pecahnya anomali pembuluh darah bawaan yang biasanya pada usia muda.

Perdarahan dari arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh aneurisma (arteri yang melebar) yang pecah atau karena suatu penyakit.

Penyakit yang menyebabkan dinding arteri menipis dan rapuh adalah hipertensi atau angiopati amiloid (trjadi pengendapan protein di dinding arteri-arteri kecil di otak). Hampir 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.

Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu:

1. Hemoragik Intraserebral (PIS): yaitu pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak, seperti intraparenkim dan intraventrikel.

2. Hemoragik Subaraknoid (PSA): yaitu pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak).

C. Gejala dan tanda Stroke

Stroke merupakan gangguan fungsi saraf pusat yang berkembang sangat cepat baik menit maupun jam dengan perburukan ringan sampai berat kemudian menetap atau bahkan membaik secara cepat atau perlahan-lahan tergantung tingkat keparahan stroke dan cepat serta tepatnya intervensi pengobatan. Karena setiap bagian otak memiliki fungsi-fungsi tertentu, maka gejala dan tanda stroke pada setiap individu sangat bervariasi, tergantung pembuluh darah mana yang terkena dan bagian otak mana yang terganggu.

Beberapa gejala stroke yang lazim dijumpai adalah sebagai berikut:

v Kelemahan / kelumpuhan wajah dan / atau anggota badan satu sisi atau dua sisi

v Rasa baal pada wajah dan / atau anggota badan satu sisi atau dua sisi

v Gangguan bicara : pelo (disartria), gangguan bahasa reseptif /ekspresif (disfasia) atau keduanya.

v Gangguan daya ingat / memori baru (amnesia)

v Gangguan orientasi tempat, waktu dan orang

v Gangguan penglihatan: dobel/ kabur pada satu atau dua mata

v Gangguan keseimbangan: vertigo, sempoyongan (ataksia)

v Gangguan menelan cairan dan/atau makanan padat (disfagia)

v Nyeri kepala dan/atau disertai penurunan kesadaran somnolen sampai koma ( perdarahan otak)

v Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil

v Menjadi mudah menangis atau tertawa

v Banyak tidur, selalu mau tidur

v Kelopak mata susah dibuka atau terjatuh

v Mendadak lemas seluruh badan dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop)

Kelainan neurologis yang terjadi lebih berat, lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi.

Stroke bisa menyebabkan edema atau pembengkakan otak. Hal ini berbahaya karena ruang dalam tengkorak sangat terbatas. Tekanan yang timbul bisa lebih jauh merusak jaringan otak dan memperburuk kelainan neurologis, meskipun strokenya sendiri tidak bertambah luas.

D. Faktor Resiko Stroke

Faktor resiko adalah kelainan atau kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap serangan stroke.

Faktor resiko stroke umumnya dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:

1. Yang tidak dapat dikontrol

• Umur

Insiden stroke meningkat seiiring dengan bertambahnya usia. Setelah umur 55 tahun, risiko stroke iskemik meningkat 2 kali lipat tiap dekade.

• Ras / Suku Bangsa

Stroke lebih sering terjadi pada orang keturuna Afrika, Asia, Afro-Karibia, Maori dan Kepulauan Pasifik dibandingkan dengan orang keturuna Eropa. Penyebab hal ini belum jelas tetapi pada populasi tersebut insiden hipertensi, DM, dan faktor resiko lain memang lebih tinggi.

• Jenis Kelamin

Laki-laki lebih cenderung untuk terkena stroke lebih tinggi dibandingkan wanita, dengan perbandingan 1,3 : 1, kecuali pada usia lanjutlaki-laki dan wanita hampir tidak berbeda. Pada laki-laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita lebih sering menderita perdarahan subarakhnoid dan kematiannya 2 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

• Riwayat Keluarga dan genetika

Kelainan turunan sangat jarang menjadi penyebab langsung stroke. Namun, gen memang berperan besar dalam beberapa faktor resiko stroke, seperti hipertensi, penyakit jantung, DM, dan kelainan pembuluh darah. Jenis stroke bawaan adalah cerebral autosomal-dominant arteriopathy dengan infark subkortikal dan leukoensepalopati (CADASIL) telah diketahui lokasi gennya pad kromosom 19Q12.

2. Yang dapat dikontrol

Hipertensi

Tekanan darah yang meningkat secara perlahan dapat merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan mendorong terbentuknya bekuan darah dan aneurisma, yang pada akhirnya akan menyebabkan stroke. Apabila tidak diobati, kurang lebih setengah dari penderita hipertensi akan meninggal akibat penyakit jantung dan hampir 33% akan meninggal akibat stroke dan 10-15% akan meninggal akibat gagal ginjal.

Diabetes Melitus

DM dapat menyebabkan stroke iskemik karena terbentuknya plak aterosklerotik pada dinding pembuluh darah yang disebabkan oleh gangguan metabolisme glukosa sistemik. DM mempercepat kejadian aterosklerosis baik pada pembuluh darah kecil maupun pembuluh darah besar di seluruh pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.

Peningkatan resiko stroke pada pasien NIDDM diduga karena hiperinsulinemia, peningkatan kadar trigliserida total, kolesterol HDL turun, hipertensi dan gangguan toleransi glukosa, berkurangnya fungsi vasodilatasi arteriol serebral. Hiperglikemia dapat menurunkan sintesis protasiklin, meningkatkan pembentukan trombosis dan menyebabkan lisis protein pada dinding arteri. Hiperglikemia meningkatkan resiko stroke melalui asam urat. (Hiperurisemia, Proteinuria)

Penyakit Jantung

Emboli dari jantung merupakan penyebab stroke sebesar 15-20%, berupa atrial fibrilasi, katup prostetik, stenosis mitral, endokarditis, mixoma atrial, infark miokard akut, prolaps katub mitral, klasifikasi anulus mitralis, patent foramen ovale dan aneurisma septum atrial.

Transient Ischemic Attack (TIA)

Merupakan prediktor stroke yang kuat. Risiko ancaman terkena stroke ulangan setelah serangan TIA pada bulan pertama sebesar 4-8%, dalam tahun pertama 12-13%, risiko dalam 5 tahun sebesar 24-29%.

Dislipidemia

Peranan dislipidemia pada proses pembentukan plak aterosklerosis sangat menonjol, kadar kolesterol LDL yang tinggi dan kolesterol HDL yang rendah serta kadar tigliserida plasma yang tinggi harus diwaspadai. Kolesterol merupakan zat di dalam aliran darah, jika jumlah kolesterol dalam darah makin tinggi, maka semakin besar kemungkinan dari kolesterol tersebut tertimbun pada dinding pembuluh darah. Hal ini menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih sempit sehingga mengganggu suplai darah ke otak yang disebut dengan stroke.

Fibrinogen tinggi dan gangguan darah lain

Gangguan darah seperti penyakit sel sabit (sickle cell disease) dan kelainan pembekuan darah (jumlah fibrinogen yang tinggi), serta adanya antibodi antifosfolipid, dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stroke. Yang berhubungan dengan suhu tubuh yang rendah.

Infeksi

Infeksi virus dan bakteri, bersama dengan faktor resiko lain, dapat sedikit meningkatkan resiko timbulnya stroke dengan meningkatkan kemampuan darah untuk membeku.

Perokok

Merokok meningkatkan risiko terkena stroke empat kali lipat. Hal ini berlaku untuk semua jenis rokok dan untuk semua jenis stroke. Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri di seluruh tubuh, sehingga merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah, dan menyebabkan darah cepat menggumpal (karena meningkatkan konsentrasi fibrinogen). Merokok juga dapat meningkatkan pembentukan dan pertumbuhan aneurisma intrakranium.

Resiko wanita perokok terkena stroke 20% lebih tinggi daripada laki-laki perokok. Wanita umumnya lebih sensitif terhadap berbagai efek buruk merokok, bahkan merokok pasif meningkatkan kemungkinan terkena stroke hampir sebesar 80%. Resiko terkena stroke setara denagn jumlah dan durasi merokok.

Peminum alkohol

Konumsi alkohol mempunyai efek ganda atas risiko stroke, yang menguntungkan dan yang merugikan. Apabila minum sedikit alkohl (kurang dari 40 ml perhari) secara merata setiap hari akan mengurangi kejadian stroke iskemik dengan jalan meningatkan kadar HDL dalam darah. Tetapi, bila minum banyak alkohol yaitu lebih dari 60 gram sehari, maka akan menambah resiko stroke.

Obat-obatan, khususnya obat kontrasepsi oral dan Narkoba

Sebagian besar kontrasepsi oral mengandung estrogen dan progesteron; yang dapat meningkatkan tekanan darah serta menyebabkan darah lebih kental dan lebih mudah membentuk gumpalan / bekuan. Kontrasepsi oral kombinasi dapat meningkatkan risiko stroke iskemik.

Heroin, amfetamin, kokain, fenisiklidin, mariyuana, dan obat-obat untuk kesenanagan lainnya dapat menyebabkan stroke akibat peradangan arteri dan vena, spasme (kejang) arteri di otak, disfungsi jantung, peningkatan pembekuan darah, atau peningkatan mendadak tekanan darah.

Obesitas

Obesitas meningkatkan kejadian stroke (sekitar 15%) bila terutama disertai dengan dislipidemia dan hipertensi. Obesitas dpat menyebabkan terjadinya stroke lewat efek snoring atau mendengkur dan sleep apnea, karena terhentinya suplai oksigen secara mendadak di otak.

Inaktivitas Fisik

Aktivitas fisik secara teratur dapat menurunkan tekanan darah dan gula darah, meningkatkan kadar kolesterol HDL dan menurunkan kolesterol LDL, menurunkan berat badan, mendorong berhenti merokok.

Stress fisik dan mental

Stress dapat menakibatkan hati memproduksi radikal bebas lebih banyak, selain itu stress dapat mempengaruhi dan menurunkan fungsi imunitas tubuh, serta juga menyebabkan gangguan fungsi hormonal. Ada beberapa bentuk stress yaitu:

ü Stres Biologis, berupa infeksi oleh bakteri, virus, jamur, dll; pada sel tubuh.

ü Stress psikis, seperti mental atau emosional.

ü Stress fisik, dapat berupa aktivitas fisik yang berlebihan misalnya bekerja secara berlebihan. Stress ini jika tidak dikontrol dengan baik akan menimbulkan kesan pada tubuh adanya keadaan bahaya, yang akan direspon oleh tubuh secara berlebihan dengan menghasilkan hormon-hormon yang membuat tubuh waspada seperti kortisol, katekolamin, epinefrin, dan adrenalin yang berdampak buruk pada tubuh.

Makanan yang tidak sehat

Pola makan dapat mempengaruhi risiko stroke melalui efeknya pada tekanan darah, kadar kolesterol serum, gula darah, berat badan, sebagai prekusor aterosklerosis lainnya. Jika seseorang mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang mereka gunakan dalam aktivitas sehari-hari, kelebihan kalori tersebut akan diubah menjadi lemak, yang menumpuk di dalam tubuh. Makanan yang tidak sehat dan tidak seimbang (misalnya, makanan kaya lemak jenuh, kolesterol atau garam dan kurang buah serta sayuran) adalah salah satu faktor risiko yang paling signifikan. Makanan semacam ini dapat menyebabkan dan mempercepat aterosklerosis, hipertensi, bekuab darah, diabetes dan masalah berat lain yang merupakan faktor resiko stroke.

Orang-orang yang memiliki satu atau lebih faktor resiko tersebut diatas termasuk stroke prone person yaitu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat serangan stroke daripada orang normal pada suatu saat selama perjalanan hidupnya bila tidak dikendalikan.

E. Pengobatan Stroke

Biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan.

Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepda penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah resiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika obat tertentu yang berfungsi menghancurkan bekuan darah (misalnya streptokinase atau plasminogen jaringan) diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan bahwa penyebabnya adalah bekuan darah dan bukan perdarahan, yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati memperbaiki aliran darah ke daerh tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan.

Tetapi pengangkatan sumbatan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack, bisa mengurangi resiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid.

Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat.

Diberikan perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).

Kelainan yang menyertai stroke (misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru-paru) harus diobati.

Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

Tahapan proses pemulihan stroke akut:

1. Fase akut, berlangsung antara 4-7 hari

Tujuan pada fase ini adalah pasien selamat.

2. Fase stabilisasi, belangsung antara 2-4 minggu

Objektifnya:

Pasien belajar lagi keterampilan motorik yang terganggu dan belajar penyesuaian baru untuk mengimbangi keterbatasan yan terjadi.

3. Fase Rehabilitasi

Objektifnya: melanjutkan proses pemulihan untuk mencapai perbaikan kemampuan fisik, mental, sosial, kemampuan bicara, dan ekonomi.

4. Fase ke kehidupan sehari-hari

Setelah fase akut dilewati, maka terapi pencegahan untuk menghindari terulangnya stroke akut tetap dilakukan. Pasien biasanya dianjurkan untuk:

• Melakukan kontrol tensi secara rutin

• Kendalikan gula darah

• Hindari atau stop merokok

• Diet rendah lemak

• Menghindari terjadinya stress

• Terapi terkait lainnya.

F. Pencegahan Stroke

a. Pencegahan Primer

1. Strategi kampanye nasional yang terintegrasi dengan program pencegahan penyakit veskler lain.

2. Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas stroke:

¯ Menghindari : rokok, stres mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam berlebihan, obat-obatan golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya

¯ Mengurangi: kolesterol dan lemak dalam makanan

¯ Mengendalikan; hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung (misalnya fibrilasi atriun, infark miakard akut, penyakit jantung rematik), penyakit vaskular aterosklerotik lainnya.

¯ Menganjurkan: konsumsi gizi seimbang dan olah raga teratur.

b. Pencegahan Sekunder

1. Modifikasi gaya hidup beresiko stroke dan faktor resiko misalnya:

¯ Hipertensi: diet, obat inti hipertensi yang sesuai.

¯ Diabetes melitus: diet obat hipoglikemik oral/ insulin

¯ Penyakit jantung aritmia nonvalvular( anti koagulan oral)

¯ Dislipidemia: diet rendah lemak dan obat antidislipidemia

¯ Berhenti merokok

¯ Hindari alkohol, kegemukan dan kurang gerak

¯ Hiperurisemia: diet antihiperurisemia.

¯ Polisiteia

2. Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: