Analisa Gas Darah

BAB I PENDAHULUAN

Homeostasis adalah keadaan mempertahankan komposisi pada lingkungan internal yang esensial bagi kesehatan, mencakup air dalam tubuh dan mempertahankan konsentrasi pH serta elektrolit yang tepat. Pemeliharaan pH cairan ekstraseluler antara 7,35-7,45 dengan peranan penting yang dimiliki oleh sistem penyangga bikarbonat sangat esensial bagi kesehatan. Gangguan keseimbangan asam-basa didiagnosis dalam laboratorium klinik dengan pengukuran darah arteri dan kandungan CO2 dalam darah vena. 1 Homeostasis asam-basa fisiologis normal adalah usaha dari paru-paru dan ginjal yang terkoordinasi dan gangguan asam-basa terjadi bila salah satu atau kedua mekanisme pengontrol ini terganggu, jadi menghambat konsentrasi ion bikarbonat atau pCO2 dalam cairan ekstraseluler. 1, 2 Bila gangguan keseimbangan asam-basa adalah akibat dari perubahan primer pada konsentrasi ion bikarbonat cairan ekstraseluler, maka gangguan tersebut adalah gangguan asam-basa metabolik. Oleh karena itu, asidosis yang disebabkan oleh penurunan primer konsentrasi ion bikarbonat disebut asidosis metabolik, sedangkan alkalosis yang disebabkan oleh peningkatan primer ion bikarbonat disebut alkalosis metabolik. Asidosis yang disebabkan oleh peningkatan pCO2 disebut asidosis respiratorik sedangkan alkalosis yang disebabkan oleh penurunan pCO2 disebut alkalosis respiratorik. 2 Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya. 3 Analisa Gas Darah adalah pemeriksaan darah yang dapat mengukur perbedaan gas dalam darah, termasuk oksigen dan karbondioksida. 4 Analisa Gas Darah merupakan pemeriksaan darah yang dapat mengukur kadar dari beberapa kandungan gas di dalam darah yang mengandung banyak oksigen. Beberapa dari kadar gas tersebut dapat diukur langsung sementara beberapa yang lain didapatkan dari kalkulasi pengukuran. Dengan mengukur gas di dalam darah arteri, dapat ditentukan tingginya kadar gas yang dikandung oleh darah sebelum mengalir ke seluruh tubuh. 5

BAB II SISTEM PENYANGGA ASAM-BASA

Homeostasis adalah keadaan mempertahankan komposisi pada lingkungan internal yang esensial bagi kesehatan, mencakup air dalam tubuh dan mempertahankan konsentrasi pH serta elektrolit yang tepat. Dua pertiga dari jumlah total air tubuh (55-56% berat badan pada laki-laki dan 10% lebih rendah pada wanita) merupakan cairan intrasel. Dari cairan ekstraseluler sisanya, plasma membentuk kurang lebih 25%. 2 Pengaturan keseimbangan ion hidrogen dalam beberapa hal sama dengan pengaturan ion-ion lain dalam tubuh. Terdapat banyak mekanisme penyangga asam-basa yang melibatkan darah, sel-sel, dan paru-paru yang perlu untuk mempertahankan konsentrasi ion hidrogen normal dalam cairan ekstraseluler dan intraseluler. 3 Pengaturan ion hidrogen yang tepat bersifat penting karena hampir semua aktivitas sistem enzim dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Oleh karena itu, perubahan konsentrasi ion hidrogen sesungguhnya mengubah fungsi seluruh sel dan tubuh.2 Pemeliharaan pH cairan ekstraseluler antara 7,35-7,45 dengan peranan penting yang dimiliki oleh sistem pendapar bikarbonat sangat esensial bagi kesehatan. Gangguan keseimbangan asam-basa didiagnosis dalam laboratorium klinik dengan pengukuran darah arteri dan kandungan CO2 dalam darah vena. 1 Ion hidrogen adalah proton tunggal bebas yang dilepaskan dari atom hidrogen. Molekul yang mengandung atom-atom hidrogen yang dapat melepaskan ion-ion hidrogen dalam larutan disebut asam. Basa adalah ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen. Ada 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk mencegah asidosis atau alkalosis : (1) sistem penyangga asam-basa kimiawi dalam cairan tubuh, yang dengan segera bergabung dengan asam atau basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen yang berlebihan; (2) pusat pernapasan, yang mengatur pembuangan CO2 dari cairan ekstraseluler; dan (3) ginjal, yang dapat mengekskresikan urin asam atau urin alkalin sehingga menyesuaikan kembali konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler menuju keadaan normal selama asidosis atau alkalosis. Saat terjadi perubahan dalam konsentrasi ion hidrogen, sistem penyangga cairan tubuh bekerja dalam waktu singkat untuk meminimalkan perubahan yang terjadi. Sistem penyangga tidak mengeliminasikan ion-ion hidrogen dari tubuh atau menambahnya ke dalam tubuh tetapi hanya menjaga agar tetap terikat sampai keseimbangan tercapai kembali. 3 Sistem Penyangga Bikarbonat 2, 3 Sistem penyangga bikarbonat terdiri dari larutan air yang mengandung dua zat yaitu (1) asam lemah, H2CO3 dan (2) garam bikarbonat, seperti NaHCO3. H2CO3 dibentuk dalam tubuh oleh reaksi CO2 dengan H2O : CO2 + H2O H2CO3 Sedangkan garam bikarbonat terbentuk secara dominan sebagai natrium bikarbonat (NaHCO3) dalam cairan ekstraseluler. NaHCO3 Na+ + HCO3- CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3- Gambar 1. Penyangga Bikarbonat Persamaan Henderson-Hasselbalch Persamaan Henderson-Hasselbalch selain untuk menentukan faktor-faktor determinan pengaturan pH normal dan keseimbangan asam-basa dalam cairan ekstraseluler juga memberikan warna mengenai kontrol fisiologis komposisi asam dan basa dalam cairan ekstraseluler. 2 Nilai pH larutan yang mengandung asam lemah berhubungan dengan konstanta disosiasi asamnya, seperti tampak di atas air yang bersifat asam lemah. Hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan Henderson-Hesselbalch : pH = – log H+ pK = – log K -log H+ = -log pK–log pH = pK – log pH = pK + log untuk sistem penyangga bikarbonat, pK adalah 6,1 maka : pH = 6,1 + log Dari persamaan Henderson-Hesselbalch terlihat bahwa peningkatan konsentrasi ion bikarbonat menyebabkan pH meningkat, menggeser keseimbangan asam-basa menuju alkalosis. Dan peningkatan pCO2 menyebabkan pH menurun, menggeser keseimbangan asam-basa menuju asidosis. pH = (HCO3) / PaCO2 = 20 / 1 HCO3 merupakan komponen metabolik yang dikendalikan oleh ginjal PaCO2 merupakan komponen pernafasan yang dikendalikan oleh paru-paru Gambar 2. pH Persamaan ini menekankan bahwa perbandingan asam dan basa harus 20:1 agar pH dapat dipertahankan dalam batas normal. Persamaan ini juga menekankan kemampuan ginjal untuk mengubah bikarbonat basa melalui proses metabolik, dan kemampuan paru untuk mengubah pCO2 (tekanan parsial CO2 dalam darah arteri) melalui respirasi. Konsentrasi ion bikarbonat terutama diatur oleh ginjal, sedangkan pCO2 dalam cairan ekstraseluler diatur dikontrol oleh laju pernapasan. Dengan meningkatkan laju pernapasan, paru mengeluarkan CO2 dari plasma dan dengan menurunkan laju pernapasan, pCO2 meningkat. Homeostasis asam-basa fisiologis normal adalah usaha dari paru-paru dan ginjal yang terkoordinasi dan gangguan asam-basa terjadi bila salah satu atau kedua mekanisme pengontrol ini terganggu, jadi menghambat konsentrasi ion bikarbonat atau pCO2 dalam cairan ekstraseluler. Bila gangguan keseimbangan asam-basa adalah akibat dari perubahan primer pada konsentrasi ion bikarbonat cairan ekstraseluler, maka gangguan tersebut adalah gangguan asam-basa metabolik. Oleh karena itu, asidosis yang disebabkan oleh penurunan primer konsentrasi ion bikarbonat disebut asidosis metabolik, sedanngkan alkalosis yang disebabkan oleh peningkatan primer ion bikarbonat disebut alkalosis metabolik. Asidosis yang disebabkan oleh peningkatan pCO2 disebut asidosis respiratorik sedangkan alkalosis yang disebabkan oleh penurunan pCO2 disebut alkalosis respiratorik. Gambar 3. Ventilasi Paru Gambar 4. Normal-Deep Breathing Gangguan Asam-basa pH HCO3 pCO2 Asid. Respiratorik Alk. Respiratorik Asid. Metabolik Alk. Metabolik Tabel 1. Gangguan Asam-Basa Condition Primary Disturbances Compensation Factor Metabolic Acidosis Decreased HCO3 Decreased PaCO2 Metabolic Alkalosis Increased HCO3 Increased PaCO2 Respiratory Acidosis Increased PaCO2 Increased HCO3 Respiratory Alkalosis Decreased PaCO2 Decreased HCO3 Tabel 2. Compensation

BAB III ANALISA GAS DARAH

Analisa Gas Darah adalah pemeriksaan darah yang dapat mengukur perbedaan gas dalam darah, termasuk oksigen dan karbondioksida. Pemeriksaan ini membutuhkan oksigen yang kaya akan oksigen sehingga sampel lebih bagus diambil dari arteri dibandingkan dari vena. 1 Pengambilan Sampel Darah Arteri Darah yang digunakan untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah adalah darah yang berasal dari darah arteri. Lokasi pengambilan darah arteri :  Arteri radialis dan arteri ulnaris (sebelumnya dilakukan Allen’s test)  Arteri brakialis  Arteri femoralis  Arteri tibialis posterior  Arteri dorsalis pedis Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi spasme. Tetapi pengambilan pada daerah femoralis mempunyai sedikit keuntungan karena daerah tersebut merupakan daerah yang kurang sensitif dan pasien tidak perlu melihat jarum suntik. 3, 4 Pasien berada dalam posisi duduk dengan lengan terbuka dan pergelangan tangan yang disangga oleh sebuah bantal kecil. Untuk mencegah kemungkinan kerusakan arteri di pergelangan tangan setelah darah diambil, perlu dilakukan tes Allen untuk memastikan aliran darah lengan normal. Pemeriksaan Analisa Gas Darah tidak akan dilakukan di lengan yang telah digunakan untuk proses dialisis atau bila terdapat infeksi atau peradangan di daerah tempat yang akan dilakukan pengambilan darah. 5 Cara pengambilan darah arteri adalah : 6  siapkan semprit yang telah dibasahi antikoagulan heparin steril  tanda-tanda pembuluh darah arteri /nadi adalah terabanya denyutan yang tidak ditemukan pada vena  bila telah ditemukan arteri, lakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70 %  dengan 2 jari telunjuk dan jari tengah lakukan fiksasi arteri tersebut  kemudian lakukan tusukan / pungsi tegak lurus (karena letaknya dalam) sampai terkena arteri tersebut  bila arteri telah tercapai akan tampak darah yang akan mengalir sendiri oleh tekanan darah ke dalam semprit yang telah mengandung heparin. Cabut semprit dan segera ditutup dengan gabus sehingga tidak terkena udara. Goyangkan semprit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku.  tekan bekas pungsi dengan kapas dengan baik sampai tidak tampak darah mengalir sekitar 5-10 menit. Hal ini tidak sama dengan vena karena dengan vena lebih mudah membeku daripada arteri. Gambar 5. Pengambilan Darah Arteri Gambar 6. Allen’s Test Minta pasien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain. Perbedaan darah arteri dan vena :  Lokasi tusukan lebih dalam  Teraba denyutan yang tidak ada pada vena  Warna darah lebih merah terang dibandingkan vena  Darah akan mengalir sendiri ke dalam semprit Karena darah diambil dari pembuluh darah arteri yang banyak mengandung banyak saraf dan lebih tipis dibandingkan pembuluh darah vena, pasien akan merasakan sakit yang lebih besar daripada pengambilan darah biasa. Tidak jarang pasien merasakan sensasi berdenyut setelah selesai pengambilan darah. Hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah arteri antara lain : 7  Tindakan pungsi arteri harus dilakukan oleh tenaga yang sudah terlatih  Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah darah membeku  Kaji ambang nyeri pasien, apabila pasien tidak mampu mentoleransi nyeri, berikan anestesi lokal  Bila menggunakan arteri radialis, lakukan test allent untuk mengetahui kepatenan arteri  Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah arteri  Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku  Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras daripada vena)  Keluarkan udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung jarum dengan karet atau gabus  Ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil  Segera kirim ke laboratorium ( sito ) Terdapat beberapa masalah terkait dengan pengambilan darah arteri, antara lain : 6 • Akan terdapat sedikit memar di tempat bekas suntikan. Memar ini dapat dikurangi dengan menekan tempat bekas pengambilan darah selama sedikitnya 10 menit setelah jarum suntik dicabut • Akan merasa sangat lelah, pusing, atau rasa mual • Perdarahan yang terus terjadi dapat menjadi masalah pada pasien yang memiliki gangguan perdarahan. Aspirin, warfarin (Coumadin), dan obat lain yang serupa dapat membuat perdarahan makin berat. Jika pasien memiliki masalah gangguan perdarahan atau sedang mengkonsumsi obat-obatan seperti yang telah disebutkan, harus memberi tahu kepada dokter sebelum dilakukan pengambilan darah • Pada kasus yang jarang, jarum suntik dapat menyebabkan kerusakan serabut saraf dari arteri sehingga dapat menyebabkan blok arteri Walaupun masalah-masalah tersebut di atas jarang terjadi, sangat dianjurkan untuk hati-hati terhadap lengan atau kaki yang telah dilakukan pengambilan darah. Jangan dulu melakukan aktivitas dan jangan membawa barang berat dulu sekitar 24 jam dari waktu pengambilan darah. Tujuan Analisa Gas Darah Analisa Gas Darah dilakukan untuk mengukur derajat keasaman (pH) dan kadar oksigen serta karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan ini dapat bermanfaat untuk mengetahui seberapa baik paru mengalirkan oksigen ke dalam darah dan membuang karbondioksida dari darah. Ketika darah masuk ke dalam paru, oksigen dan karbondioksida juga turut masuk ke dalam darah menuju ke paru. Analisa Gas Darah ini menggunakan darah arteri, dimana kadar oksigen dan karbondioksida dapat dinilai sebelum masuk ke dalam jaringan. 6 Beberapa penyakit dapat menunjukkan gejala yang sama, seperti nyeri dada, pusing, sesak napas, hipoventilasi atau hiperventilasi. Analisa Gas Darah dapat membantu menentukan apakah gejala tersebut disebabkan oleh gangguan metabolik, pernapasan, atau kondisi lainnya. Analisa Gas Darah juga digunakan untuk mengetahui seberapa baiknya fungsi paru pada pasien dengan heart-lung machine selama open-heart surgery. Selain itu, Analisa Gas Darah dianjurkan pada pasien yang sedang menjalani terapi respiratori atau sedang menggunakan ventilator, dan untuk mengetahui fungsi ginjal. 5, 6 AGD digunakan untuk mengukur : 5, 6 • Tekanan parsial O2 (pO2) Untuk mengetahui seberapa baiknya oksigen mengalir dari paru ke dalam darah. Nilai normalnya 75-100mmHg. • Tekanan parsial CO2 (pCO2) Untuk mengetahui berapa banyak kandungan karbondioksida dalam darah dan untuk mengetahui seberapa baiknya karbondioksida dapat mengalir keluar dari dalam tubuh. Nilai normal 30-45mmHg. • pH Pengukuran pH bertujuan untuk mengetahui kadar ion H+ dalam darah. pH darah normal berkisar antara 7,35 – 7,45. Bila pH kurang dari 7,35 disebut asam dan bila lebih dari 7,45 disebut basa (alkali). • Bikarbonat (HCO3) Bikarbonat adalah senyawa kimia yang menjaga pH darah dari keasaman. Bila kadar pH menurun, HCO3 akan diabsorpsi oleh ginjal dan masuk ke dalam darah yang nantinya akan keluar dari tubuh bersama urin. Nilai normal berkisar antara 22-26 mEq/liter. • Kadar O2 (O2CT) dan Saturasi O2 Kadar oksigen menunjukkan berapa besar oksigen yang berada dalam darah. Saturasi oksigen menunjukkan berapa banyak hemoglobin di dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Nilai normal kadar oksigen antara 15-23% sedangkan saturasi normal berkisar antara 94-100%. Arterial blood gases (at sea level and breathing room air) Partial pressure of oxygen (PaO2): 75–100 mm Hg Partial pressure of carbon dioxide (PaCO2) 35–45 mm Hg pH 7.35–7.45 Bicarbonate (HCO3) 20–29 mEq/L or 20–29 mmol/L Oxygen content (O2CT) 15%–22% (15–22 mL per 100 mL of blood) Oxygen saturation (O2Sat) 95%–100% (95–100 mL per 100 mL of blood) Tabel 2. Nilai Normal Gas Darah Konsentrasi oksigen yang dihirup ketika bernapas, disebut Fraksi Oksigen Inhalasi/ Fraction of Inhalation Oxygen (FiO2), hanya berguna bila pasien yang dilakukan pemeriksaan Analisa Gas Darah sedang dalam terapi oksigen atau yang menggunakan ventilator. Analisa Gas Darah merupakan pemeriksaan darah yang dapat mengukur kadar dari beberapa kandungan gas di dalam darah yang mengandung banyak oksigen. Beberapa dari kadar gas tersebut dapat diukur langsung sementara beberapa yang lain didapatkan dari kalkulasi pengukuran. Hasil dari Analisa Gas Darah dapat memberi tahu informasi tentang : • Seberapa baik fungsi paru selama atau setelah prosedur pembedahan, misalnya open-heart surgery yang menggunakan heart-lung machine • Apakah ventilator mekanik diperlukan untuk membantu pernapasan pada pasien • Seberapa baik fungsi metabolisme • Apakah kadar asam-basa dalam tubuh dalam keadaan seimbang • Efektivitas dari terapi respiratoar dan terapi lain pada pasien dengan penyakit jantung kronik, paru, atau gangguan metabolisme • Fungsi ginjal • Masalah pernapasan dan paru seperti asma, kista fibrosis, atau PPOK • Apakah mendapatkan kadar oksigen yang benar bila sedang menggunakan oksigen di rumah sakit • Kadar asam-basa dalam darah pada pasien gagal jantung, gagal ginjal, diabetes yang tidak terkontrol, gangguan tidur, infeksi berat, atau setelah mengalami overdosis obat Faktor yang Mempengaruhi Analisa Gas Darah Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan Analisa Gas Darah antara lain : 3  Gelembung udara Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel darah maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.  Antikoagulan Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin yang berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangkan pH tidak terpengaruh karena efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.  Metabolisme Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karena itu, sebaiknya sampel diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sampel tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.  Suhu Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil Analisa Gas Darah antara lain : 5, 6, 7 • Hiperventilasi (pernapasan cepat dan dalam). Hal ini dapat menyebabkan pCO2 lebih rendah dari biasanya. • Merokok. Rokok tembakau mengandung sekitar 2000 gas dan bahan kimia. Kandungan racun ini dapat mempengaruhi hasil Analisa Gas Darah. • Inhalasi karbonmonoksida. Karbonmonoksida (CO) merupakan bahan kimia yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa yang diproduksi dari pembakaran yang tidak sempurna ( mis. tungku rumah tangga, dan mesin mobil). Kadar CO yang tinggi di dalam tubuh dapat menyebabkan keracunan dan kematian yang cepat. Kadar CO juga dapat mempengaruhi hasil Analisa Gas Darah. • Hipotermia • Anemia atau polisitemia • Diabetes • Overdosis obat atau alkohol • Gagal ginjal • Penyakit paru, seperti penyakit paru kronik atau pneumonia • Dehidrasi berat karena luka bakar yang berat, muntah, diare, atau mengkonsumsi obat-obatan diuretik • Infeksi berat (sepsis) Beberapa macam obat juga dapat mempengaruhi hasil Analisa Gas Darah, yaitu : • Antasida (terutama yang mengandung bikarbonat) • Diuretik. Obat-obatan yang meningkatkan produksi urin dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan air dan mineral. • Antibiotik • Kortikosteroid Prinsip Umum Analisa Gas Darah 8 1. Analisa Gas Darah digunakan untuk mengukur pH dan pCO2. Digunakan persamaan Henderson-Hesselbalch atau persamaan Henderson. Henderson-Hesselbach pH = pK + log Henderson 2. Untuk perkiraan kasar [H+] = (7,80 – pH) x 100 40mEq/L = [H+] pada nilai pH 7,40. Setiap perubahan pH 0,3 dari pH 7,40 dapat dikalikan 2 atau ½. Contoh : pH 7,10  [H+] = 2 x 40mEq/L (80nmol/L) pH 7,70  [H+] = ½ x 40mEq/L (20nmol/L) 3. Perhitungan [HCO3-] harus berada 2mEq/L dari konsentrasi ion bikarbonat. Jika tidak, maka perhitungan harus diulang kembali. 4. Setiap perubahan pCO2 meningkat atau menurun 10mmHg diasosiasikan dengan meningkat atau menurunnya pH sebesar 0,08. Bila pCO2 menurun, pH akan meningkat. Bila pCO2 meningkat, pH akan menurun. 5. Setiap perubahan pH sebesar 0,15 setara dengan perubahan basa 10mEq/L. Penurunan basa diartikan sebagai kekurangan basa dan peningkatan basa diartikan sebagai kelebihan basa. Interpretasi Analisa Gas Darah 8 Langkah 1 Angka di sebelah kanan tidak boleh lebih dari 10% dari angka sebelah kiri. Jika angka tidak sesuai kemungkinan yang paling besar adalah hasil Analisa Gas Darah dan panel kimia [HCO3-] diperoleh di waktu yang berbeda. Langkah 2 Tentukan apakah termasuk asidemia (pH < 7,37) atau alkalemia (pH >7,44). Langkah 3 Tentukan termasuk metabolik atau respiratorik. Bila terjadi asidemia, pCO2 > 44mmHg (asidosis respiratorik) atau [HCO3-] < 22mmol/L (asidosis metabolik). Menentukan metabolik atau respiratorik tergantung dari abnormalitas dari nilai pH. Bila kedua komponen tersebut menunjukkan metabolik dan respiratorik maka terjadi hal yang disebut mixed acid-base problem. Langkah 4 Setelah menentukan gangguan primer, gunakan persamaan pada tabel 3 untuk menghitung respon kompensasi yang diharapkan. Bila menghasilkan angka yang diharapkan dan yang didapat signifikan berarti terjadi gangguan campuran asam-basa. Langkah 5 Hitung anion gap. Anion gap = Na+ – ( Cl- + [HCO3-] normal : 8-12 mmol Bila nilai anion gap meningkat, lanjutkan ke langkah 6. Langkah 6 Bila anion gap meningkat, bandingkan angkanya dari nilai normal dengan [HCO3-]. Bila angka perbedaan dari normal anion gap lebih besar dari angka [HCO3-] maka terjadi metabolik alkalosis yang akan menjadi metabolik asidosis. Sebaliknya maka terjadi non gap metabolik asidosis yang akan menuju gap metabolik asidosis. Langkah 7 Sesuaikan hasil interpretasi Analisa Gas Darah dengan gejala klinik atau diagnosa penyakit. Acis-Base Disorder Primary Expected Expected Degree of Abnormality Compensation Compensation Metabolic Acidosis [HCO3-] pCO2 pCO2 = (1,5 x [HCO3-] + 8 Metabolic Alkalosis [HCO3-] pCO2 in pCO2 = [HCO3-] x 0,6 Acute Respiratory Acidosis pCO2 [HCO3-] in [HCO3-] = Chronic Respiratory Acidosis pCO2 [HCO3-] in [HCO3-] = Acute Respiratory Alkalosis pCO2 [HCO3-] in [HCO3-] = 2 Chronic Respiratory Alkalosis pCO2 [HCO3-] in [HCO3-] = 5 Tabel 3. Simple Acis-Base Disturbances Gambar 7. Interpretasi AGD Gambar 8. Nomogram for acid-base disorders Contoh 1 Pasien dengan PPOK mempunyai gas darah dengan pH 7,34; pCO2 55; dan [HCO3-] 29. Langkah 1 [H+] = (7,80 – pH) x 100 46 = 24 x 46 45  < 10% Langkah 2 pH < 7,37  asidemia Langkah 3 pCO2 > 44 dan [HCO3-] tidak < 22  asidosis respiratorik Langkah 4 Berdasarkan tabel 3, kompensasi untuk PPOK (asidosis repiratorik kronik) Ekspektasi [HCO3-] = 24 mEq/L + 6 = 24 mEq/L + 6 = 30, angkanya berdekatan dengan angka 29, jadi termasuk simple respiratory acidosis. Pasien ini mempunyai asidosis respiratorik karena hipoventilasi (simple acid-base disorder). Contoh 2 Segera setelah mendapat serangan cardiac arrest pasien mempunyai pH 7,25; pCO2 28 dan [HCO3-] 12. Langkah 1 56 = 24 x 56 = 56 Langkah 2 pH <7,37  asidemia Langkah 3 [HCO3-] < 22mEq/L dan pCO2 tidak > 44  asidosis metabolik Langkah 4 pCO2 = (1,5 x [HCO3-] + 8) = (1,5 x 12) + 8 = 26 Nilai ekspektasi 26, tidak jauh berbeda dengan nilai yang dimiliki pasien sebesar 28mmHg, jadi pasien ini termasuk asidosis metabolik yang sederhana. Pasien ini mempunyai asidosis laktat karena kardiopulmonal arrest. Contoh 3 Seorang wanita 30 tahun dengan kehamilan 30 minggu dengan gejala mual dan muntah. Gas darah pH 7,55; pCO2 25 dan [HCO3-] 22. Langkah 1 45 = 28 27 Langkah 2 pH > 7,45  alkalemia Langkah 3 pCO2 <36 dan [HCO3-] tidak > 26  alkalosis respiratorik Langkah 4 [HCO3-] = 24 – 7,5 atau 16-17mmol, tetapi bikarbonat pasien 22, berarti terjadi alkalosis metabolik sekunder relatif ([HCO3-] lebih besar dari yang diharapkan). Pasien ini mempunyai alkalosis respiratorik karena kehamilan dan alkalosis metabolik sekunder karena muntah. Hasil Analisa Gas Darah 5, 6, 8 Hasil pemeriksaan Analisa Gas Darah adalah berupa derajat keasaman (pH) dan kadar oksigen serta karbondioksida dalam darah. Hasil yang abnormal pada satu jenis gas seringkali tidak cukup untuk membuat diagnosis. Bila dalam bentuk kombinasi beberapa gas dapat mengindikasikan keadaan sebagai berikut : a. Kerusakan fungsi respirasi Kadar pO2, O2CT, dan SaO2 rendah, yang dikombinasi dengan pCO2 yang tinggi. Keadaan ini dapat disebabkan oleh :  Diafragma yang lemah atau paralisis (otot-otot pernapasan)  Obstruksi jalan napas  Cedera otak  Tumor otak  Penyalahgunaan obat  Tenggelam b. Insufisiensi masukan oksigen Kadar pO2, O2CT, dan SaO2 rendah yang dikombinasi dengan pCO2 yang normal. Keadaan ini disebabkan oleh :  Shunt yang mengalirkan darah langsung ke paru  Paru yang kolaps c. Insufisiensi kadar oksigen dalam darah O2CT rendah yang dikombinasi dengan pO2, SaO2, dan pCO2 yang normal. Dapat disebabkan oleh :  Anemia berat  Volume darah yang menurun  Kemampuan sel darah merah untuk mengangkut oksigen yang menurun d. Asidosis respiratorik Kadar pH yang rendah dengan HCO3- dan pCO2 yang tinggi. Gejala berupa pernapasan yang lambat dan dangkal (hipoventilasi), sakit kepala, takikardia, bingung, dan gelisah. Keadaan ini dapat disebabkan oleh :  Penyakit paru, seperti pneumonia atau PPOK  Mati lemas atau obstruksi jalan napas  Penyalahgunaan obat  Cedera, pembedahan, atau trauma lain  Penyakit jantung, penyakit paru, atau penyakit neuromuskular e. Alkalosis respiratorik Kadar pH yang tinggi dengan HCO3- dan pCO2 yang rendah. Gejalanya berupa pernapasan cepat dan dalam (hiperventilasi), perasaan seperti ditusuk-tusuk (prickling), perasaan geli (tingling), kepala berat, kejang, ansietas, dan ketakutan. Keadaan ini disebabkan :  Penyakit paru, seperti asma atau pneumonia  Infeksi bakterial  Penyalahgunaan obat atau alkohol  Cedera atau trauma  Rasa sakit  Demam  Gagal hati  Ansietas berat  Pemasangan ventilator yang tidak tepat f. Asidosis metabolik Kadar pH rendah dengan HCO3- dan pCO2 yang juga rendah. Gejala berupa pernapasan cepat dan dalam (hiperventilasi), sakit kepala, pernapasan sweet-smelling, kelemahan dan kelelahan yang tidak biasa, mengantuk,, penurunan kesadaran yang lama (koma), mual atau muntah. Dapat disebabkan oleh :  Penyakit ginjal  Penyakit hati  Diabetes mellitus  Syok  Intoksikasi obat  Keracunan atau overdosis obat, seperti aspirin g. Alkalosis metabolik pH dengan kadar yang tinggi dan juga HCO3 -dan pCO2 yang tinggi. Gejalanya dapat berupa pernapasan yang lambat dan dangkal (hipoventilasi), kelelahan, kejang, ketegangan otot yang tinggi, bingung, iritabilitas, emosi rendah (apatis), spasme otot, dan penurunan kesadaran (koma). Dapat disebabkan :  Aldosteron primer. Gangguan endokrin dimana hormon aldosteron yang berlebihan menyebabkan ginjal mengabsorpsi sodium terlalu banyak dan mengeliminasi potassium yang banyak juga.  Sindroma Cushing. Gangguan endokrin dimana kelenjar adrenal memproduksi hormon cortisone-like yang berlebihan  Overdosis steroid  Kehilangan potassium  Diet yang tidak tepat yang ditunjukkan dengan banyaknya alkali di dalam saluran pencernaan  Muntah yang berkepanjangan Hasil Analisa Gas Darah dapat digunakan untuk mendiagnosa dengan baik berbagai macam kondisi dimana hasil pemeriksaan ini sudah banyak digunakan di bagian emergensi rumah sakit. Hasil Analisa Gas Darah biasanya digunakan sebagai alat untuk menegakkan diagnosa, dan banyak pasien tidak membutuhkan pemeriksaan rutin. Tetapi bagaimanapun, hasil Analisa Gas Darah dapat digunakan untuk memantau hasil terapi pada pasien dengan ventilator, sedang menjalani terapi respirasi, atau penderita gagal jantung berat, gangguan paru atau gangguan metabolisme. Nilai dari hasil Analisa Gas Darah yang tunggal tidak cukup untuk memberi informasi dalam membantu menegakkan diagnosa. Sebagai contoh, hasil Analisa Gas Darah yang menunjukkan nilai yang rendah tidak dapat membedakan apakah disebabkan oleh paru atau jantung. Nilai Analisa Gas Darah sangat membantu bila juga dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang lain. Analisa Gas Darah juga sering dilakukan pada pasien di rumah sakit dengan cedera atau penyakit berat. Hasil pemeriksaannya dapat mengukur fungsi paru dan ginjal dan seberapa baik tubuh menggunakan energi. Analisa Gas Darah juga dapat membantu pada pasien dengan tingkat pernapasan yang menurun atau pun meningkat, atau pada pasien yang mempunyai kadar gula darah yang tinggi, infeksi berat, atau gagal jantung. Abnormalitas Hasil Analisa Gas Darah Terkait pada Beberapa Gejala Klinik dan Penyakit 1. pH meningkat Muntah-muntah, hiperaldosteron, CHF fase awal, obat yang menyebabkan alkalosis, atau ansietas. 2. pH menurun Ketoasidosis, asidosis laktat, gagal ginjal, gagal napas, PPOK, obat yang menyebabkan asidosis (Isoniazid, Fe, Salisilat), atau etilen glikol. 3. pCO2 meningkat Gagal napas, hipoventilasi, PPOK, depresi CNS, alkalosis metabolik, atau obat-obatan yang mendepresi pusat pernapasan (alkohol, barbiturat, opiat, benzodiazepin). 4. pCO2 menurun hiperventilasi, ansietas, penyakit paru interstitial, sirosis hepatis, asidosis metabolik, hipertiroid, emboli paru, atau karena aspirin. 5. pO2 meningkat terapi oksigen, hiperventilasi, gelembung udara yang berlebihan dalam spesimen darah, atau karena aspirin. 6. pO2 menurun PPOK, pneumonia, penyakit paru interstitial, emboli paru, CHF, depresi CNS, shunt jantung kanan ke kiri, atau obat-obatan yang dapat mendepresi pusat pernapasan. 7. HCO3 meningkat Asidosis respiratorik, alkalosis metabolik (muntah, sindrom Cushing, deplesi volume), obat-obatan diuretik, atau glukokortikoid. 8. HCO3 menurun Alkalosis respiratorik, asidosis metabolik (ketoasidosis, asidosis laktat, gagal ginjal, diare), obat-obatan inhibitor karbonik anhidrase, etilen glikol, metanol, aspirin, atau kehamilan.

dr.Reti Anggraeni

2 Tanggapan

  1. antikoagulan yang digunakan pada analisa gas darah adalah heparin,bisakah memakai antikoagulan lainnya?tk

  2. antikaoagulan yang digunakan pada pemeriksaan Analisa Gas Darah apakah cuma heparin?
    Kalau ya tolong berikan alasannya,tapi kalau tidak antikoagulan apa yang dapat digunakan dan berikan penjelasannya? terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: