Arti Klinis Luka Tembak

Dalam praktek banyak terdapat hal tentang luka tembak masuk pada tubuh manusia. Seperti kita ketahui kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Jika dilihat dari elastisitasnya, epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. Bila sebutir peluru menembus tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru, sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring).

Contusio ring ini didapatkan pada luka tembak masuk dan luasnya tergantung pada arah peluru pada kulit. Peluru yang masuk tegak lurus, maka contusio ringnya akan besar, sedangkan peluru yang masuknya miring, contusio ringnya akan lebih lebar dibagian dimana peluru membentuk mulut yang terkecil pada kulit.
Peluru juga mengandung lemak pembersih senjata. Lemak ini juga akan memberi gambaran pada luka tembak berupa kelim lemak yang berupa pita hitam, tetapi kelim lemak ini tidak selalu terdapat misalnya pada senjata yang jarang dibersihkan. Pada waktu senjata ditembakkan, maka yang keluar dari laras senjata api adalah: Baca lebih lanjut

Iklan

Odontologi

dentifikasi korban mati massal melalui gigi geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang. Seperti diketahui bahwa bencana merupakan kejadian yang mendadak, tak terduga dapat terjadi pada siapa saja, dimana saja, kapan saja serta mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta benda, korban manusia yang relatif besar baik mati maupun hidup. Kemajuan Ilmu Kedokteran Gigi Forensik ditandai dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan Kedokteran Gigi untuk identifikasi korban mati dalam upaya pencegahan masalah dari korban yang tidak dapat dikenali lagi. Ilmu forensik yang di praktekkan di Indonesia boleh dibilang sangat tertinggal, jika dibandingkan praktek forensik di negara maju. Selain ahlinya belum banyak, sarana pendukungnya juga tidak difasilitasi dengan baik oleh pemerintah. Selain itu kemampuan rumah sakit atau institusi kesehatan menyimpan data rekam medis juga sangat terbatas. Baca lebih lanjut

KEMATIAN MENDADAK

Secara periodik, ahli forensik mempresentasikan kasus kematian mendadak pada saat atau segera sesudah tindakan kekerasan dimana otopsi lengkapnya tidak dapat untuk menerangkan penyebab wajar dari kematiannya. Kematian tersebut biasanya melibatkan polisi atau paramedis yang pernah berusaha menahan orang-orang yang keras dan tidak rasional. Ketika ahli forensik melaporkan bahwa kurangnya penyebab trauma untuk menjelaskan kematian,
mereka sering dituduh menutupi atau tidak berkompeten karena hal itu “cukup jelas” korbannya “dibunuh” oleh polisi atau tenaga medis. Ketika akhirnya diketahui bahwa terdapat kurang bukti trauma fisik pada tubuh yang menjelaskan kematian, prasangka bahwa orang tersebut mati oleh “pencekikan” atau “asfiksia posisional” sering dibuat.
Pada kasus dimana individu tersebut mati sewaktu pergelutan antara polisi atau paramedis, prosedur berikut sebaiknya diikuti :
– Penyelidikan lengkap terhadap keadaan dan lingkungan sekitar yang mengarahkan pada kematian sebaiknya dilakukan. Ahli forensik sebaiknya mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari sumber-sumber yang mengetahui kejadian tersebut. Rekam medis yang berhubungan dengan kasus tersebut sebaiknya diperoleh dan ditinjau kembali.
– Autopsi lengkap sebaiknya dilakukan. Hal tersebut sebaiknya diikuti oleh pemeriksaan mikroskopik seluruh organ khususnya jantung.
– Pemeriksaan toksikologi lengkap sebaiknya dilakukan.
Karena adanya kontroversi tentang kematian tersebut, khususnya jika melibatkan polisi, direkomendasikan agar autopsi tersebut dilakukan oleh atau dibawah pengawasan langsung oleh ahli patologi forensik yang berpengalaman, dan foto tubuh sebaiknya
diambil, walaupun tidak ada luka yang terlihat. Tidak ada penyebab pasti kematian hingga seluruh pemeriksaan selesai dilakukan secara lengkap.


Luka Tembak

Di dalam menghadapi kasus kriminal yang melibatkan pemakaian senjata api sebagai alat yang dimaksudkan untuk melukai atau mematikan seseorang, maka dokter sebagai orang yang melakukan pemeriksaan khususnya atas diri korban, perlu secara hati-hati cermat dan teliti di dalam menafsirkan hasil yang didapatnya, oleh karena pemakaian senjata api untuk maksud membunuh atau melukai membawa implikasi yang luas, tidak jarang menimbulkan keresahan dan kesulitan tersendiri bagi mereka yang terlibat. Untuk dapat menjelaskan tugas dan fungsi sebagai pemeriksa maka dokter harus menjelaskan berbagai hal, diantaranya : apakah luka tersebut memang luka tembak, yang mana luka tembak masuk dan yang mana yang keluar, jenis senjata yang dipakai, jarak tembak, arah tembakan, perkiraan posisi korban sewaktu ditembak, berapa kali korban ditembak dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian. Interpretasi yang benar mengenai luka tembak oleh para ahli patologi tidak hanya memberikan informasi berharga yang dapat menunjang pelaksanaan hukum selama investigasi, tetapi juga penting untuk penentuan akhir jenis kematian. (1,2,9) Luka tembak merupakan penyebab kematian akibat kejahatan yang paling umum di Amerika Serikat. Luka tembak paling umum dijumpai sebagai penyebab kematian adalah akibat pembunuhan dan di beberapa daerah bagiannya adalah akibat bunuh diri. Di Amerika Serikat pertahunnya diperkirakan terdapat sekitar 70.000 jiwa korban luka tembak dengan kasus kematian sekitar 30.000 jiwa. Biaya medis, legal, dan emosional akibat kejahatan tersebut menjadi suatu beban berat bagi rumah sakit, sistem peradilan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Evaluasi mengenai luka tersebut memerlukan latihan khusus dan keahlian baik oleh seorang dokter yang menangani bagian kegawatdaruratan korban luka tembak maupun para ahli patologi dan forensik. Didalam dunia kriminal senjata api yang biasa dipergunakan adalah senjata genggam yang beralur, sedangkan senjata api dengan laras panjang dan senjata yang biasa dipakai untuk berburu yang larasnya tidak beralur jarang dipakai untuk maksud-maksud criminal.

download lengkap na….

PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI

Pembunuhan anak merupakan fenomena yang beragam dengan bermacam kasus dan karakteristik. Pemberitaan mengenai hal tersebut kemungkinan membangkitkan reaksi emosi yang kuat dalam masyarakat. Beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya pembunuhan anak selama ini, diantaranya anak dijadikan korban (human sacrifice), mengontrol jumlah penduduk, menghindari kemelaratan, membatasi jumlah perempuan, menghindari kelahiran cacat, takhayul, dan ilegitimasi. Baca lebih lanjut

VISUM ET REPERTUM

PENDAHULUAN

Pembuktian merupakan tahap paling menentukan dalam proses persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan terbukti tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut umum.

Oleh karena pembuktian merupakan bagian dari proses peradilan pidana, maka tata cara pembuktian tersebut terikat pada Hukum Acara Pidana yang berlaku yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1981.

Dalam pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 dinyatakan: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang melakukannya”.

Dari bunyi pasal 183 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 kiranya dapat dipahami bahwa pemidanaan baru boleh dijatuhkan…………
download selengkapnya di sini